FRIDAY, DECEMBER 11

Pendalaman: Kejadian 3; Pengkhotbah 2: 18–23; Efesus 6: 5–8. Baca- Jah Ellen G. White, “Penggodaan dan Kejatuhan,” halaman 46-61 dalam Alfa dan Omega, jld. 1.

Bekerja-kutukan atau berkat? Jika dilihat, bekerja sepertinya merupakan bagian dari kutuk dosa (Kej. 3: 17). Namun jika dibaca lebih teliti, ternyata yang dikutuk adalah tanah, dan bukan pekerjaan. Ellen G. White menyatakan bahwa Allah bermaksud memberi penugasan ini sebagai berkat: “Dan kehidupan yang disertai dengan kesukaran dan pergumulan itu yang harus menjadi nasib manusia sejak saat itu telah ditetapkan dalam kasih. Itu adalah satu disiplin yang diperlukan sebagai akibat dari dosanya, untuk menolong mengendalikan pemanjaan nafsu dan selera makan untuk mengembangkan kebiasaan mengendalikan diri. Itu adalah sebagian dari rencana Allah yang besar untuk memulihkan manusia dari kehancuran serta kemerosotan yang diakibatkan oleh dosa.”-Ellen White, Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 57.

Mungkinkah kita menjadikan kutukan dengan membuat pekerjaan kita monoton, menumpuk, atau membuatnya yang terpenting dalam hidup kita? Apa pun situasi kita, kita harus belajar menempatkan pekerjaan dalam perspektif yang tepat. Dan, pendidikan Kristen harus melatih orang untuk tahu nilai dari bekerja, sementara pada saat yang sama tidak membuatnya menjadi berhala.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan

1. Bacalah Pengkhotbah 2: 18-24. Bagaimanakah Salomo bisa menganggap bekerja sebagai berkat dan juga kutuk dalam ayat-ayat tersebut? Apa sajakah petunjuk dalam ayat-ayat itu tentang apa yang bisa membuat perbedaan dalam cara kita berhubungan dengan pekerjaan kita?

2. Melalui pekerjaanlah kita merawat (memelihara) keluarga kita. Bagaimanakah kita bisa menyampaikan sikap positif tentang pekerjaan kepada keluarga kita?

3. Batas antara menjadi pekerja yang baik dan gila kerja (workaholic) kadang sangat tipis. Bagaimanakah kita menjaga agar tidak melewati batas itu? Lihat Pengkhotbah 2: 23.

4. Paulus menyatakan dengan sangat jelas, "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (2 Tes. 3: 10). Prinsip ini tentu saja sangat masuk akal. Adakah beberapa contoh di mana prinsip ini tak berlaku? Maksudnya, mengapakah kita harus menghindari membuat aturan ini terlalu ketat dan tidak boleh dilanggar?

Berikan Komentar

%d bloggers like this: