RENUNGAN PAGI GMAHK

Kamis, 03 Desember 2020

Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan.-–Yesaya 25: 9.

Suatu suara yang jelas dan merdu didengar oleh umat Allah, yang berkata, “Lihat ke atas”, dan mengangkat mata mereka melihat ke langit, mereka melihat pelangi perjanjian. Awan hitam yang murka yang menutupi cakrawala terbelah, dan seperti Stefanus, mereka menatap ke dalam surga dan melihat kemuliaan Allah dan Anak Manusia yang duduk di atas takhta-Nya. Dalam rupa Ilahi mereka melihat dengan jelas tanda-tanda kehinaan-Nya, dan dari bibir-Nya mereka mendengar permohonan yang disampaikan kepada Bapa dan malaikat-malaikat suci, “Ya Bapa, Aku mau supaya di mana pun Aku berada, mereka juga bersama-sama dengan Aku” (Yoh. 17: 24). Sekali lagi suatu suara musik yang merdu dengan nada kemenangan, terdengar mengatakan, “Mereka datang! Mereka datang! Kudus, tidak bercela dan tidak bernoda. Mereka telah memelihara Firman-Ku, mereka akan berjalan di antara malaikat-malaikat.” Dan bibir yang pucat dan gemetar dari mereka yang berpegang teguh dalam imannya meneriakkan suatu sorak kemenangan.

Pada tengah malamlah Allah menyatakan kuasa-Nya untuk kelepasan umat-Nya. Matahari tampak bercahaya dalam keperkasaannya. Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat menyusul silih berganti dengan cepat. Orang-orang fasik melihat pemandangan itu dengan ketakutan dan keheranan, sementara orang-orang benar memandang kesukaan besar itu sebagai tanda kelepasan mereka. Segala sesuatu di alam ini kelihatannya berubah. Sungai-sungai berhenti mengalir. Awan-awan hitam tebal muncul dan saling berbenturan satu sama lain. Di tengah- tengah langit yang sedang marah itu ada suatu ruang terbuka dengan kemuliaan yang tak tergambarkan, dari sana datang suara Allah bagaikan suara gemuruh air, yang berkata, “Sudah terlaksana!” (Why. 16: 17).

Suara itu mengguncangkan langit dan bumi. Terjadilah gempa bumi yang dahsyat, “seperti belum pernah terjadi sejak manusia ada di atas bumi. Begitu hebatnya gempa bumi itu” (Why. 16: 18). Cakrawala tampak terbuka dan tertutup. Kemuliaan dari takhta Allah tampak memancar bagaikan kilat. Gunung-gunung berguncang bagaikan alang-alang yang ditiup angin, dan batu-batu berserakan ke segala sudut. Ada suatu gemuruh bagaikan datangnya angin topan. Lautan pun bergelora dengan ganasnya. Terdengar jeritan angin ribut bagaikan suara Iblis-iblis dalam misi penghancuran. Seluruh dunia bergelora bagaikan gelombang laut. Permukaannya terbelah-belah. Dasarnya tampaknya hancur. Barisan gunung-gunung tenggelam. Pulau-pulau yang berpenduduk lenyap. Pelabuhan-pelabuhan laut yang telah menjadi seperti Sodom dalam kejahatan, ditelan oleh laut yang mengamuk.-–Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 671, 672.

Berikan Komentar

%d bloggers like this: